Deretan Taipan Pemilik Perusahaan Farmasi Terbesar di Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Di Indonesia, farmasi merupakan sektor bisnis yang menjanjikan. Pasalnya, dengan terjadi pandemi, banyak negara berinvestasi lebih besar pada program penelitian kesehatan dan pengadaan vitamin, suplemen, hingga obat peningkat kekebalan tubuh. Tak heran, banyak sekali pengusaha yang menjalankan perusahaan farmasi di Indonesia. Bahkan, melansir dari BKPM, kini pemerintah telah memasukkan sektor perangkat medis dan farmasi sebagai bagian dari sektor prioritas dalam percepatan pembangunan industri farmasi. Hal ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan dan permintaan yang tinggi dari pasar, sekaligus untuk menurunkan ketergantungan pada produk impor. Lantas, siapa saja pengusaha farmasi terbesar di Indonesia? Berikut ulasannya.

1. Ferry Soetikno

Drs. Rudy Soetikno merupakan pendiri dari Dexa Medica, salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara dan menjadi aset strategis Nasional. Namun, semenjak Rudy meninggal, maka perusahaan dipegang oleh sang putra sulung dari Rudy, yaitu Ferry Soetikno dan mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Sebagai perusahaan yang mengandalkan teknologi modern, agar bisa terus bersaing di pasaran dan mendukung pertumbuhan bisnis, membuat Dexa Group mendirikan kembali mendirikan lini bisnis baru, yaitu Ferron Par Pharmaceuticals.
2. Jahja Santoso  merupakan pengusaha dari Sanbe Farma. Melansir dari situs resminya, Sanbe Farma berdiri pada tahun 1974 di Jawa Barat. Beberapa produk yang berhasil dipasarkan dan mendapat kesuksesan besar di pasaran adalah Sanaflu, Neosanmag dan Otede.

 

3. Boenjamin Setiawan Boenjamin Setiawan adalah pendiri dari Kalbe Farma. Sebagai seorang doktor di bidang farmakologi, dirinya tak hanya memiliki perusahaan farmasi saja. Namun juga, memiliki RS Mitra Keluarga, sebuah jaringan rumah sakit yang sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Berdasarkan Forbes, Boenjamin Setiawan masuk daftar orang terkaya di Indonesia dan berhasil menjadi salah satu 50 orang terkaya di Indonesia, di mana harta kekayaan per 2021 mencapai US$4,2 miliar atau sekitar Rp65 triliun.
4. Eddie Lembong merupakan pendiri dari PT Pharos Indonesia adalah salah satu dari beberapa perusahaan farmasi tertua dan terbesar di Indonesia. Berdiri sejak 30 September 1971. Dalam perkembangannya PT. Pharos Indonesia telah berkembang menjadi 17 perusahaan (Pharos Group) yang terdiri dari beberapa bidang usaha, seperti, Pharos Indonesia (PI), Prima Medika Laboratories (PML), Century Franchisindo Utama (CFU) dan lain sebagainya.
5. DR. Tjahya Indrajana adalah pemilik dari PT. LAPI, yaitu Laboratorium Alergen Pertama Indonesia (Indonesia First Allergen Laboratories). Pendirian ini didasari Pada tahun 1974, ketika DR. Indrajana melakukan praktik pribadi untuk Asma dan Alergi, dan dirinya menyadari bahwa tidak ada fasilitas yang tersedia untuk mendiagnosis & mengobati pasien alergi, yang terjadi sekitar 20% dari populasi. Sebelumnya, DR Indrajana mengawali klinik pribadinya pada 1969 lalu, Seiring perjalanan waktu, pada 1990, Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana sudah mulai melayani permintazan MCU dan tes laboratorium dari luar klinik melalui layanan Laboratorium Klinik Biolisa. Tahun 2018, klinik milik DR. Indrajana mengalami re-branding menjadi Klinik Utama Dr. Indrajana. Dengan perubahan itu, Klinik Utama Dr. Indrajana menawarkan layanan rawat inap.
6. Djoko Sukamto merupakan pendiri dari perusahaan Interbat. Perusahaan yang berdiri tahun 1948 ini dulunya memiliki peran sebagai agen distributor tunggal obat di Tanah Air. Lalu seiring perkembangan usahanya, kini Interbat sudah memiliki berbagai produk seperti Pamol, Pamol Forte dan Comvita-C.

Baca juga:  Gandeng Komunitas Foto, prodi Gizi Poltekkes PIM sukses menggelar Food Photography Workshop

7. Handojo Selamet Muljadi
Mengutip dari Forbes, Kartini Muljadi dan anak-anaknya, salah satunya Handojo Selamet Muljadi merupakan pemilik dari Tempo Group. PT. Tempo Scan Pacific Tbk sendiri merupakan anak perusahaan dari Tempo Group yang menjadi perusahaan terbesar yang membawahi divisi farmasi. Unit bisnis anak perusahaan ini terdiri dari pembuatan dan pendistribusian produk-produk farmasi, perawatan kesehatan, kosmetik dan jasa distribusi. Adapun harta kekayaan sang keluarga per 2021, mencapai US$695 juta atau sekitar Rp10 triliun.
8. BUMN Biofarma
menjadi induk holding dari perusahaan farmasi milik negara yang beranggotakan PT Kimia Farma, Tbk, dan PT Indofarma Tbk, Tujuan dari pembentukan holding farmasi ini adalah untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, meningkatkan ketersediaan produk, dengan menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan produk farmasi.
9. Novartis Novartis International
AG adalah sebuah perusahaan farmasi multinasional yang berkantor pusat di Basel, Swiss. Novartis dibentuk pada bulan Maret 1996 melalui penggabungan Ciba-Geigy dan Sandoz Laboratories yang sama-sama berasal dari Swiss. Novartis sendiri merupakan salah satu perusahaan farmasi dengan kapitalisasi pasar dan pendapatan terbesar di dunia.
10. Novell Pharmaceutical Laboratories Novell Pharmaceutical Laboratories
merupakan hasil merger antara Glaxo International dan Burroughs Wellcome pada tahun 1996 yang berstatus sebagai perusahaan penanaman modal asing dan terdaftar di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pada tahun 2013, Novell Pharma menjadi perusahaan farmasi lokal pertama di Indonesia yang memperoleh persetujuan Good Manufacturing Process (GMP) dari otoritas Uni Eropa (Jerman – Lageso) untuk pabrik injeksinya. Pada tahun 2017 Novell juga menjadi perusahaan Indonesia pertama yang memperoleh persetujuan obat dari EU Netherland Authority CBG/MEB. Sebagai bagian dari ekspansi internasionalnya, Novell memiliki kantor dan tim pemasaran sendiri di Filipina, Thailand dan Vietnam, dengan lebih dari 30 karyawan di luar Indonesia.

Dikutip dari : https://entrepreneur.bisnis.com/read/20221020/265/1589574/deretan-taipan-pemilik-perusahaan-farmasi-terbesar-di-indonesia

 

 

Bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *