Sakit Sedikit, Jangan Lari ke Antibiotik

Bagai obat sapu jagat, antibiotik selama ini menjadi konsumsi publik untuk penyakit lazim sehari-hari. Obat itu seakan jadi solusi segala penyakit. Begitu sakit sedikit, dokter dengan mudah meresepkan antibiotik meski tanpa indikasi infeksi bakteri. Bahkan, tak sedikit orang awam yang saat sakit secara swamedikasi nekat menenggak antibiotik yang dibeli bebas di pasaran.

Antibiotik adalah temuan besar di abad ke-20. Jenis obat ini digunakan khusus untuk melawan infeksi akibat bakteri pada tubuh manusia ataupun hewan. Jenis obat antibiotik modern, yakni penisilin, ditemukan pertama kali pada tahun 1928 oleh ilmuwan ahli mikrobiologi Alexander Fleming di Inggris.

Dalam perjalanannya, celakanya di bebagai belahan dunia, antibiotik digunakan secara serampangan, lepas kendali, tidak sesuai indikasi, dan berlebihan. Fleming sendiri bahkan sudah mewanti-wanti ancaman resistensi antimikroba yang memunculkan bakteri-kebal.

Berdasarkan arsip lawas surat kabar The New York Times pada 2 Mei 1953 di halaman 16, Fleming mengkhawatirkan fenomena penyalahgunaan antibiotik penisilin di banyak negara saat itu, misalnya untuk mengobati penyakit sederhana seperti batuk pilek (common cold) yang ia pastikan salah sasaran. Artikel itu berjudul ”Penicillin Abused, Discoverer Holds; Fleming Says Drug is Overused Throughout World, Often on Infections It Won’t Cure”.

 

Saat menerima Nobel tahun 1945, dalam ceramahnya, Fleming juga sudah mengingatkan ancaman bakteri resisten terhadap antibiotik penisilin akibat konsumsi dengan dosis yang tidak tepat. Ia sudah memprediksi akan datang masanya di dunia ketika antibiotik penisilin bisa dibeli siapa saja di toko-toko. Dan itulah yang akan mendatangkan bahaya munculnya bakteri-kebal.

”Mikroba terdidik untuk melawan (resisten) penisilin. Dalam kasus seperti itu, orang yang ceroboh bermain-main dengan penisilin secara moral bertanggung jawab atas kematian orang yang akhirnya menyerah pada infeksi organisme (bakteri) yang resisten terhadap penisilin. Saya berharap kejahatan (penyalahgunaan) ini dapat dihindari,” kata Fleming saat itu.

Salah kaprah

Namun, yang dikhawatirkan Fleming tersebut justru terus terjadi. Tak terkecuali di Indonesia. Steven Timotius Dharma (29) adalah salah satu orang yang di masa lalu terbiasa mengonsumsi antibiotik. Seakan lumrah, ketika batuk pilek atau demam, keluarganya membiasakan konsumsi antibiotik untuk meredakan gejala tersebut.

”Sejak dari TK sepertinya, sudah biasa kalau demam, (minum) obat panas terus (antibiotik) amoksisilin. Pernah juga beberapa kali ketika sakit, obat itu tidak lagi saya lanjutkan,” ucap pria yang bekerja sebagai kreator konten itu kepada Kompas, Sabtu (27/1/2024).

Baca juga: Gunakan Antibiotik Hanya untuk Penyakit akibat Infeksi Bakteri

Belakangan Steven menyadari, antibiotik seperti amoksisilin tak lagi efektif padanya. Tahun 2023, dia baru diberi tahu dokter bahwa konsumsi antibiotik yang terlalu sering dan tidak habis bisa menyebabkan efek resistensi.

Steven mewakili potret orang awam yang baru terpapar informasi mengenai resistensi obat antibiotik, atau yang dalam dunia kesehatan kini dikenal sebagai resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).

AMR adalah suatu kondisi ketika berbagai mikroorganisme seperti bakteri menjadi kebal terhadap obat-obatan antimikroba, termasuk antibiotik. Seharusnya, bakteri tersebut sensitif dan mudah dibunuh dengan suatu antibiotik. Namun, seiring waktu, bakteri bertransformasi menjadi bakteri super (superbugs) yang kebal terhadap antibiotik.

Indonesia sebenarnya telah satu dekade lebih memberi atensi pada isu AMR. AMR terjadi terutama akibat peresepan antibiotik oleh dokter yang lepas kendali. Telah banyak studi akademik membuktikan peresepan antibiotik yang tidak rasional di dunia medis. Begitu pula di Indonesia. Hasil surveilans Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kementerian Kesehatan pada 2016 telah membuktikan penggunaan antibiotik berlebihan terjadi di rumah-rumah sakit Indonesia.

Baca juga:  DUDIKA Favoritkan Lulusan POLTEKKES PIM

Baca juga: Antibiotik Tidak Efektif Lawan Infeksi Virus

Bahaya penggunaan antibiotik berlebihan adalah ketika antibiotik golongan tertinggi (reserve) tidak lagi manjur untuk mengobati penyakit yang seharusnya mudah diobati. Akibatnya, nyawa pun bisa terancam. Sementara pengembangan antibiotik baru butuh waktu lama dan biaya mahal.

Pendiri Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), Purnamawati S Pujiarto, sejak 2003 giat mengampanyekan isu resistensi antimikroba di Indonesia. Ia yang juga dokter anak ini menyoroti peresepan antibiotik di kalangan dokter yang tidak rasional.

”Bakteri resisten antimikroba tidak mengenal usia, baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta. Siapa pun pasiennya bisa kena,” ujar dokter yang lebih akrab disapa Wati itu, pertengahan Januari 2024.

Panduan praktis antibiotik

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik jelas termuat, antibiotik adalah obat yang digunakan hanya untuk penyakit infeksi bakteri. Bukan virus.

Dalam pedoman tersebut, penggunaan antibiotik di dunia medis harus memenuhi prinsip tepat diagnosis, tepat pasien, tepat jenis antibiotik, hingga tepat regimen dosis. Artinya, peresepan obat pertama-tama harus memenuhi unsur paling krusial, yaitu diagnosis yang tepat.

Baca juga: Obat Rasional, Kuncinya Dokter

Pertanyaan selanjutnya, seperti apa diagnosis yang tepat dalam peresepan antibiotik? Mengacu pada pedoman, yaitu diagnosis penyakit infeksi bakteri yang ditegakkan melalui pemeriksaan klinis, laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lain. Dalam situasi tertentu yang lebih detail, diagnosis ditegakkan lewat pemeriksaan mikrobiologi melalui kultur bakteri.

Purnamawati mengatakan, pasien harus cermat dan kritis mengamati diagnosis dan resep dari dokter. Sebab, gejala sebatas batuk pilek atau demam belum menggambarkan secara jitu perlunya antibiotik. Artinya, gejala demikian belum menjadi diagnosis akhir.

Baca juga: Banyak Antibiotik untuk Infeksi Umum pada Anak-anak Tidak Lagi Efektif

Ia menegaskan, antibiotik tidak seharusnya diberikan untuk gejala awal seperti demam dan batuk pilek (common cold). Demam tergolong gejala yang umum pada infeksi. Dalam kasus demam berdarah yang disebabkan virus Dengue dari nyamuk Aedes aegypti, jelas dipastikan tidak memerlukan antibiotik.

Sebagai edukasi, Purnamawati merekomendasikan, pasien awam bisa mengacu pada panduan praktis dari lembaga kredibel. Contohnya Panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau panduan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dapat digunakan sebagai referensi penyakit umum.

Selain itu, para orangtua bisa mengacu ke buku panduan WHO berjudul “Hospital Care for Children” yang berisi panduan penyakit umum yang dialami anak. Dari panduan itu diulas detail, misalnya, batuk, kesulitan bernapas, bahkan hingga sengatan ular tidak memerlukan konsumsi antibiotik.

Pasien harus lebih bijak dan kritis menimbang penggunaan antibiotik sekalipun diresepkan dokter. Jangan sampai sakit sedikit, langsung menenggak antibiotik. Jika fenomena salah kaprah antibiotik tidak diperbaiki sejak sekarang, suatu saat kita semua tak bisa lagi diobati dengan antibiotik. Terjadilah bencana kesehatan.
Oleh @dvrnt , @marhaenpinggiran
Pewarta foto: Kompas/ @sariefebriane

Foto: Apry/Poltekkes PIM

Bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *